Kamis, 28 Mei 2015

Sahabat sejati

Sahabat sejatiku, hilangkah dari ingatanmu
Di hari kita saling berbagi
Dengan kotak sejuta mimpi, aku datang menghampirimu
Kuperlihat semua hartaku
Kita s’lalu berpendapat, kita ini yang terhebat
Kesombongan di masa muda yang indah
Aku raja kaupun raja
Aku hitam kaupun hitam
Arti teman lebih dari sekedar materi


Reff.
Pegang pundakku, jangan pernah lepaskan
Bila ku mulai lelah… lelah dan tak bersinar
Remas sayapku, jangan pernah lepaskan
Bila ku ingin terbang… terbang meninggalkanmu
Ku s’lalu membanggakanmu, kaupun s’lalu menyanjungku
Aku dan kamu darah abadi
Demi bermain bersama, kita duakan segalanya
Merdeka kita, kita merdeka

Tak pernah kita pikirkan                      
Ujung perjalanan ini                                                         
Tak usah kita pikirkan
Akhir perjalanan ini
http://musiklib.org/Sheila_On_7-Sahabat_S

U_U

Iyal Slow

Mungkin kau tak pernah tahu apa yang kutulis disini
Yang terkadang tak tereja di setiap syairnya
Yang takkan pernah selesai kurangkai untukmu
Dan tak tak pernah lelah kugoreskan di tiap
aksaranya
Hingga kata yang kupintal menjadikan namamu
Izinkan aku mencintaimu meski dalam goresan pena
Aku ingin mencintaimu layaknya mentari
Yang bergulir sempurna dari kanan ke kiri
Aku ingin mencintaimu seperti udara
Yang tak terlihat namun dapat kau rasa
Mungkin bagimu rinduku tak kasat mata
Rindu yang tak terbaca yang tak kau pahami
maknanya
Biarkanlah aku simpan dan kurajut dalam hati
Tentangmu
Pada sedikit kisah hidupmu yang pernah kau bagi
cerita
Pada sekeping hatimu yang rela kutumbuhi bunga
Tentangmu
Namamu yang selalu menggetarkan kepingan hatiku

Anggap Saja DIARY KU

Saat aku merasa rindu, dan mungkin rindu akan dirimu yang dulu, ku lihat saja beberapa pesan yang masih tersimpan rapi dalam inbox-ku.Ah aku ingat, beberapa pesan itu sudah tak  ada. Saat itu aku marah beberapa pesan yang ku simpan itu sudah tak ada. Sekarang aku tak tau harus bagaimana membahagiakan diriku sendiri, hanya pesan-pesan itu yang bisa membuat ku tersenyum sendiri mengingat konyolnya kita dulu dan sekarang itu semua entah kemana. kadang aku berpikir, mungkin memang saattnya aku menyerah ? Namun, tekad ku besar keinginan, dan rasa sayang ku lebih besar dari pada itu.

      Tapi, Apa mungkin memang kau sudah terlalu lelah dengan semua yang telah kita jalani selama ini ? Aku tak tau bagaimana perasaanmu. Aku pun lelah dengan diriku sendiri yang terlalu banyak mengeluarkan air mata, terlalu banyak memendam perasaan rindu. Hmm, anehnya kau tak ada maksud baik untuk memperbaiki semuanya. Itu memang sikapmu, atau kau hanya jenuh saja ? Seakan kau tak mau mengerti perasaanku, seakan kau terus menyalahkan aku.


       Sudah jauh, sekarang kau masih saja menjauhkan diri dari ku. Lalu, aku harus diam saja dan menerima semuanya ? BODOH. Aku menangis. Aku memang hanya bisa berbicara dengan menangis jika kau sudah seperti ini. Kau tenang saja karena kau tak melihatku menangis, dan kau tak merasakan jadi aku. Apa banyak sekali wanita yang bisa secinta sperti ini padamu, Iya ?

    
Kenapa ku selalu bersikap baik padamu? Dipancing sedikit saja dengan kamu manis padaku awalnya, maka aku langsung luluh. Yaa, meskipun kau cuek pada akhirnya, tapi aku tak pernah memikirkan itu dan tak menginginkan itu terjadi. Jika aku menangis lagi karena sikapmu. itu urusan belakangan. Yang terpenting, aku ingin mersakan cintamu yang hangat. Aku tak memikirkan bahwa akhirnya aku masih menangis, dan kau masih tak mau tahu. Tapi, aku tak menganggapmu jahat. Karena kau sayang dan mencintaimu.

*Aku yakin kamu gak perlu karma untuk mengerti semua, aku ingin kau hanya sedikit peka...

Hujan & Kenangan

Hujan. Siapa yang tak mengenal hujan? Saat rasa malas seketika membebani punggung. Saat rasa kantuk bisa datang tiba-tiba. Saat pagimu masih terasa buta.  Saat selimut menjadi tempat terbaik untuk bersembunyi. Saat kebanyakan orang tidak sadar bahwa mereka sedang berada di tengah keindahan.


Tak semua orang merasa takjub dengan hujan. Tak semua orang menangkap atmosfir eksotis yang dimiliki hujan. Bagiku, tentu saja secara pribadi, hujan adalah keindahan. Malas yang datang, hari yang terasa berjalan pelan, gemuruh tetesan air pada atap seng, jalanan yang tampak mengkilat, dedaunan yang tampak segar, pantulan lampu di atas aspal, suara gemercik air yang menetesi kubangan, hingga katak-katak yang seolah berperan sebagai pengisi terakhir pada acara "Hujan Kenangan".


Bagiku hujan adalah kenangan. 


Peristiwa seperti hujan adalah peristiwa yang bisa jadi adalah kenangan dan bisa jadi sedang terjadi. Maka dari itu, bagiku hujan adalah sesuatu yang sifatnya original. Hujan akan lebih indah untuk dikenang, nikmat untuk dirasakan dan sesuatu yang mustahil untuk diulang. Maka ketika hujan tiba, posisikan dirimu di tempat yang semestinya, rangkailah kenangan pada saat itu juga, lalu simpan baik-baik. Suatu saat akan ada suatu hal yang membuatmu mengingat saat itu. Puncak kenangan terindahnya adalah ketika kau menyesal karena kenangan itu terlalu jauh dengan kenyataanmu.


Dan Kenangan terindahku saat Hujan adalah ketika pertama kali kita bertemu...:)

Hanya Dalam Angan

Sejujurnya, aku sedang cemas memikirkan esok hari kita akan seperti apa.
Sebab begitu banyak kemungkinan dari ketidakmungkinan yang ada,
serta ada satu hal yang mengganjal batinku tetapi enggan kutanyakan kepadamu,
yaitu jawaban sebuah kalimat.

“Apakah engkau mencintaiku dan masihkah ada kemungkinan itu?”

Setiap harinya, aku memangkas rindu yangtumbuh kering seperti alang-alang,
semakin kutebas, semakin mereka meranggas.

Hingga rasa lelah menasihatiku untuk berhenti dan
membiarkan setiap malam dadaku meledak dengan batuk yang sesak,
sebab apalagi yang bisa kuperbuat ketika kau lenyap selain menghibur kedua mataku yang bengkak?

Kau dan aku tak pernah tau kapan takdir menghancurleburkan definisi kita.
Ia bukanlah penyabar, melainkan penghitung dan penagih tanpa belas kasih.

Apabila esok hari bukan aku lagi yang kau khawatirkan,
kau boleh mengetahui aku yang terlampau sering mengemis kepada jarum jam
agar waktu berjalan cepat hingga kau dan aku berhadapan saling tatap.

Apabila esok hari ada lengan lain yang bukan milikku memelukmu erat kala udara dingin lebih tajam dari sindiran lidah remaja labil,
betapa hangat tubuhmu membekas abadi tanpa koma dan karena.


Apabila esok hari ternyata ada orang lain yang kau cintai,
ingatlah seseorang yang pernah begitu jatuh cinta padamu dalam gugup kali pertama menatap sepasang matamu yang serupa bintang jatuh.

Terima kasih telah membuat hatiku hidup lagi setelah mengalami mati suri , sebab bila bukan karenamu,
aku masihlah seorang pengecut yang tak pernah berani menciptakan bahagiaku sendiri. 

Terima kasih juga untuk kesediaanmu untuk ada untukku,
karena aku selalu berangan dapat menghentikan waktu saat menggenggam tanganmu. 

Terima kasih karena berkatmu aku belajar dengan baik menjadi aku.
Dan apabila esok hari itu tiba, aku telah mengikhlaskanmu.

Sebab merelakan memang tak pernah sesederhana tangis perpisahan.
Oleh karena hatiku telah luluhlantak sepaket dengan iman dan raga yang nyaris tumbang pada tiap kata yang mengakhiri tulisan ini,
aku hanya ingin berkata sejujur-jujurnya apabila esok hari itu tiba.